Sabtu, 26 Desember 2015

KPK (KEPEMIMPINAN, PELAYANAN dan KETAATAN)

KEPEMIMPINAN

Seorang pemimpin pelayan adalah orang yang selalu berusaha membantu orang lain, terkadang dalam beberapa hal Ia ditipu seseorang karena kebaikannya. Yang paling penting untuk diantisipasi dari hal ini adalah jangan sampai Anda menyerpelayananah hanya karena telah ditipu. Fokus utama dari kepemimpinan pelayan adalah pada bagaimana mengembangkan pihak lain (pengikut, komunitas internal dan eksternal), bukan untuk mementingkan diri sendiri. Namun sebagai seorang pemimpin pelayan, terkadang kita harus siap melakukan berbagai hal sepele yang diremehkan orang lain. Bahkan harus menerima pandangan yang mengatakan bahwa pemimpin pelayan itu pemimpin yang lemah, tidak tegas dan tidak dapat mengambil keputusan sendiri.

Konsep utama Yesus tentang kepemimpinan yang melayani, terlihat di dalam kalimatnya berikut ini. “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka” (Matius 20:25).

Melalui perkataan-Nya itu Yesus ingin membuat perbandingan bahwa kepemimpinan dengan gaya dunia memiliki ciri-ciri otokratis; lebih banyak memerintah daripada melayani pengikut; lebih banyak menempatkan pimpinan sebagai bos daripada pemimpin. Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin justru harus menjauhi hal-hal berbau otokratis. Gaya otokratis bertolak belakang dengan yang Yesus kehendaki dan tampilkan, yakni kasih dan pengampunan.

PELAYANAN

Dalam model Yesus, seorang pemimpin adalah seorang yang mengubahkan. Pemimpin membawa pengaruh untuk menghasilkan perubahan di dalam diri orang lain. Dalam konteks pendidikan, gereja, lembaga pemerintahan, dapat ditarik paralelnya. Seseorang yang menduduki posisi puncak barulah disebut sebagai pemimpin jika kehadirannya membawa positif bagi orang-orang disekitarnya. Perubahan nilai di dalam diri orang-orang (yang terkena pengaruh tersebut) akan membentuk sebuah sistem nilai yang juga baru di lingkungan dimana orang-orang itu berada. Fokus utamanya adalah pembentukan nilai-nilai di dalam diri orang lain, sehingga terbentuk sebuah karakter dan kebiasaan (habits) yang bagus dan luar biasa, yang mencerminkan Kristus.

Di dalam tiga setengah tahun pelayanan-Nya di bumi, Yesus memimpin 12 orang murid yang akhirnya menjadi ujung dari ‘ujung tombak’ pemberiaan Injil ke seluruh dunia. Dari orang-orang Galilea, kasar dan tak berpendidikan, Yesus mencetak 12 Rasul yang penuh dedikasi, berkarakter seperti diri-Nya dan berhasil meneruskan apa yang menjadi keinginan-Nya. Yesus membentuk mereka menjadi seorang pemimpin melalui pengajaran dan gaya hidup, dimana mereka bergaul langsung dengan-Nya dari hari ke hari dan mendengar langsung pengajaran-Nya di setiap waktu. Kekristenan yang kita dalami hari-hari ini tidak pernah dapat dilepaskan dari peranan para rasul yang berhasil di dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal ini, Yesus membuktikan satu hal, pemimpin dibentuk dan bukan dilahirkan. Apa saja yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya?

Aku lapar – kamu memberi makan

Makanan adalah kebutuhan bagi tubuh agar dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan manusia. Tanpa makanan, manusia akan mati dan tidak dapat berkarya. Namun di zaman sekarang ini, memperoleh makanan bukanlah hal mudah bagi orang-orang miskin. Peluh keringat bekerja keras terkadang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan makanan. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan makanan sehat dan harga bahan makanan yang selalu mengalami kenaikan harga. Menyediakan makan bagi orang miskin, gelandangan, dan yang berada di posko pengungsian, memberikan bantuan sembako, menciptakan lapangan kerja, memberdayakan potensi sesama agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya maupun keluarganya.

Aku haus – kamu memberi minum

Air adalah lambang kehidupan bagi setia makhluk hidup. Tiada bedanya dengan manusia, setiap hari manusia memerlukan air untuk memenuhi kebutuhan. Jikalau makan saja tanpa minum seharian manusia tidak akan sanggup bertahan hidup, karena air membantu makanan meresap melalui darah ke seluruh organ tubuh sebagai sumber energi maupun nutrisi. Minuman memberi kelegaan bagi yang dahaga dan minum obat memberi kesembuhan bagi yang sakit (lih. Sir 38:4-7). Teks ini menyapa mereka yang memberi telinga bagi yang tengah berbeban berat dan memberikan kata-kata peneguhan bagi yang sedang galau dan bermasalah.

 Aku orang asing – kamu memberi tumpangan

Seorang yang meninggalkan kampung halamnyan akan membutuhkan  orang sebagai pemandu. Agar tidak tersesat dan mendapat arah tujuan yang jelas mengenai tujuan yang akan ditempuh ditempat yang baru. Keramahtamahan dalam menerima tamu, termasuk orang asing. Bagaimana orang-orang asing seperti anak kost, perantau, dan orang-orang yang kerap disingkirkan oleh masyarakat kemudian merasa tersapa dan terlindungi? Apa yang bisa dilakukan oleh keluarga dan komunitas kristiani? Beberapa paroki memiliki proyek “Bedah Rumah” untuk meningkatkan kesejahteraan sesama yang membutuhkan.

Aku telanjang – kamu memberi pakaian

Di zaman sekarang ini, pakaian merupakan simbol atau identitas seseorang. Para orang orang yang memiliki harta banyak mengenakan pakaian mewah. Orang pekerja agar terlihatan sukses memakai dasi dan taksido. Seorang tentara memakai baju loreng-loreng kesatuannya. Bagi orang sederhana pakaian digunakan cukup sebagai alat melindungi mereka dari cuaca panas dan dingin. Serta menutupi organ-organ tubuh tertentu agar tidak terlihat memalukan oleh orang-orang lain. Secara konkret hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pakaian kepada yang membutuhkan seperti pengalaman iman St. Martinus. Dengan memberikan pakaian yang layak, kita memperlakukan sesama sesuai martabatnya yang berharga. Maka hal sebaliknya, “menelanjangi” orang lain bukanlah bagian dari perbuatan kasih. Sebaliknya, dalam dan karena kasih orang berani menutupi segala sesuatu, termasuk masa lalu dan kekuragan orang lain (lih. 1 Kor 13:7).

Aku sakit – kamu melawat

Kunjungan kepada yang sakit merupakan bentuk perhatian dan rasa sepenanggungan bagi mereka yang sakit. Doa bersama si sakit merupakan kesempatan untuk bersama-sama memohon campur tangan Tuhan dalam proses penyembuhan. Niscaya melihat “iman kita bersama” (bdk. Mrk 2:5) Tuhan berkenan menganugerahkan kesembuhan. Si sakit terbebani bukan saja karena penyakitnya tetapi juga oleh beban keuangan yang harus ditanggung. Jika orang sakit maka Ia tidak akan bisa bekerja dan menghasilkan uang, dan yang ada hanya pengeluran untuk membayar obat dan kebutuhan penyembuhannya. Apa yang bisa dilakukkan oleh keluarga dan komunitas kristiani dalam situasi demikian?

Aku dalam penjara – kamu melawat

Orang yang dipenjara adalah orang-orang yang terkurung, dijauhkan dari masyarakat, entah sebagai konsekuensi kesalahan yang mereka lakukan ataupun korban ketidakadilan. Mereka yang terkurung dalam penjara tidak bisa bergerak bebas. Secara nyata kunjungan ke penjara merupakan dukungan bagi mereka. Dalam kondisi demikian Tuhan tetap mencintai mereka. Secara figuratif, barangkali masih banyak orang yang terpenjara sehingga tidak bisa bergerak bebas, entah karena terlilit oleh masalahnya sendiri, keterbatasan pemikiran dan wawasan, dsb, maka aneka upaya penyadaran dan motivasi untuk bangkit kembali menjadi sumbangan yang sangat berarti. Semoga keluarga dan komunitas kristiani semakin mampu melayani seturut Sabda Allah!

KETAATAN

Tindakan Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat, bukan mengajarkan kita untuk boleh melanggar peraturan sekehendak hati. Namun Ia mengundang kita untuk mempertimbangkan secara masak-masak sebelum mengambil keputusan dalam menjalankan sebuah peraturan. Setiap peraturan hendaknya dilaksanakan dalam terang kasih ilahi agar tidak bertentangan dengan hukum cinta kasih yang diajarkan Yesus. Jangan meniru sikap orang Farisi yang sangat menjunjung tinggi hukum dan peraturan, sehingga bersikap tidak peduli akan dampaknya yang merugikan sesama.

Mari kita teladani Yesus yang berani menentang pelaksanaan peraturan demi keselamatan jiwa. Sadari bahwa kasih terhadap sesama jauh lebih bernilai daripada ketaatan pada sebuah peraturan buatan manusia.

https://bungagereja.wordpress.com/

Jumat, 25 Desember 2015

Arti Allah Itu Kasih

Apa artinya Allah adalah kasih? Pertama-tama kita perlu melihat bagaimana Firman Tuhan, Alkitab, menggambarkan ”kasih,” dan kemudian kita akan melihat beberapa cara pengajaran ini diterapkan pada Allah. ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:4-8).

Ini adalah cara Allah menggambarkan kasih. Allah adalah seperti yang digambarkan itu, dan orang Kristen perlu menjadikan ini sebagai tujuan mereka (walaupun selalu dalam proses). Ekspresi yang paling utama dari kasih Allah dikomunikasikan kepada kita dalam Yohanes 3:16 dan Roma 5:8. ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Pada (Yohanes 3:16). “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Dari ayat-ayat ini kita bisa melihat bahwa Allah sangat menginginkan kita bersama-sama dengan Dia dalam rumahNya yang kekal, Surga. Dia telah membuka jalan dengan membayar harga dosa-dosa kita. Dia mengasihi kita karena Dia memilih untuk melalukan hal itu. ”Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak” (Hosea 11:8). Kasih mengampuni. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

Kasih (Allah) tidak memaksakan diri pada orang lain. Orang-orang yang datang kepadaNya, datang kepadaNya sebagai respons terhadap kasihNya. Kasih (Allah) menyatakan kemurahan pada semua orang. Kasih (Yesus) berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang bulu. Kasih (Yesus) tidak cemburu pada apa yang orang lain miliki, hidup sederhana tanpa mengeluh. Kasih (Yesus) tidak membesar-besarkan diri sekalipun Dia dapat mengalahkan semua orang lain. Kasih (Allah) tidak menuntut ketaatan. Allah tidak menuntut ketaatan dari sang Anak, namun sang Anak secara sukarela menaati BapaNya di surga. ”Dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku” (Yohanes 14:31). Kasih (Yesus) selalu memperhatikan kepentingan orang lain.

Gambaran singkat mengenai kasih ini mengungkapkan hidup yang tidak mementingkan diri sendiri, sesuatu yang bertentangan dengan hidup mementingkan sendiri dari dunia ini. Yang luar biasa, Tuhan telah memberikan kepada mereka yang menerima AnakNya, Yesus, sebagai Juruselamat mereka dari dosa, kemampuan untuk mengasihi sebagaimana Dia mengasihi. Dia memberikan ini melalui kuasa Roh Kudus. Suatu tantangan dan hak istimewa yang luarbiasa!

Kamis, 24 Desember 2015

Selamat Natal Dan Tahun Baru

Inkulturasi mengucapkan "Selamat Natal Dan Tahun Baru"

Sebagai  kado Natal Dan Tahun Baru, Inkulturasi mempersembahkan beberapa video rohani dan animasi di hari spesial ini. 

Semoga terhibur dan selamat menikmati...

  • NATAL PART II


NATAL PART I

DISAYANG TUHAN

 SALAM MARIA
  
 
AVE MARIA


ANIMASI NATAL


POHON CEMARA


NATAL DI BETLEHEM

SALJU SAAT NATAL

Rabu, 23 Desember 2015

Kekuatan Fokus

Bruce Lee Sang legenda Kung-Fu, pernah berkata “ Saya tidak takut dengan orang yang berlatih 10.000 jurus tendangan dalam sekali latihan, namun Saya lebih takut kepada orang yang telah melatih satu jenis tendangan sebanyak 10.000 kali latihan”. Kesimpulan yang dapat diambil dari kalimat tersebut adalah “kekuatan fokus”.

Mempelajari berbagai keahlian memang bukan suatu kesalahan, selama kegiatan tersebut menambah pengetahuan dan bukan menjadikan fokus terpecah-pecah. Maka lebih baik memilih satu hal yang dijadikan titik fokus.
Lebih baik menguasai suatu hal yang mendalam daripada menguasai banyak hal lainnya namun tidak mendalam. Memiliki keahlian di berbagai bidang, namun hanya dapat menghasilkan nilai rata-rata saja. Bukankah lebih baik menguasai satu keahlian namun menghasilkan kualitas yang mengagumkan?

Para orang-orang sukses dunia, seperti : Bill Gates, Michael Jordan, Chris Jhon dan lain-lain. Apakah mereka tidak memiliki keahlian lain selain bidang yang mereka geluti saat ini?
Pasti mereka memiliki keahlian lain, namun mereka tidak ingin hal tersebut menjadi memecahkan fokus mereka.

Dalam perjalanan hidup Kristus banyak menyembuhkan orang-orang sakit, namun mengapa Ia menghindari orang-orang di Kapernaum yang ingin disembuhkan? Jawabanya adalah bukan karena Ia tidak ingin menyembuhkan, tapi karena hal itu dapat membuat fokus-Nya menjadi terpecah-pecah. Sebab fokus-Nya adalah mengabarkan injil. (Markus 1 :38)

Selasa, 22 Desember 2015

Xmas Atau Christmas?

Saya, saudara, teman, kenalan dari dahulu sering memberikan ucapan Natal menggunakan kata "Xmas" dalam  kartu ucapan, sms, telepon, atau di jejaring sosial. Namun belakangan ini Saya juga melihat komentar atas penyebutan Xmas itu ternyata kurang baik. Dengan pernyataan mereka sebagai berikut :

Penyebutan X-mas itu di buat oleh mereka yang tidak percaya pada Yesus Kristus (Jesus Christ) sehingga kata “Christ” pada Christmas mereka ganti dengan kata “X” karena mereka tidak ingin mengucapkan nama Yesus. Inilah perbedaan akan mereka yang merayakan natal tapi tidak ingin percaya pada Yesus dengan kita yang percaya akan kelahiran Juruselamat. Ini juga berdampak pada penyebaran injil yang salah.

Mat 10:32 “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Jika kita sudah tahu hal ini, janganlah kita mengikuti kebiasaan mereka yang salah. Hal simple namun mempunyai dampak yang besar. Sebarkan agar mereka tahu di balik natal yang sesungguhnya ada nama “Christ” yang tidak dapat digantikan dengan apapun.

Waduh... hati saya merasa serba-salah "membaca penjelasan" tersebut, Saya menjadi merasa bersalah selama ini dengan mengikuti yang salah.

Saya pun mencari kebenaran atas penyebutan "Xmas" adalah "salah", agar dikemudian hari Saya tidak kembali menggunakannya

Akhirnya...
Saya menemukan beberapa artikel yang menyatakan bahwa penyebutan "Xmas" TIDAK SALAH dan "Ayat Mat 10:32 " TIDAK NYAMBUNG". 

Penjelasan

Bahwa kedua versi penebutan "Xmas" dan "Christmas" tersebut sama benarnya. Pada masa sekarang, sebagian orang menggunakan kata “Xmas” untuk mengurangi kesan religius, namun demikian asal kata tersebut sangat Kristiani.
  •  X = Xristo (Christos)

Pada Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. “Xristos” adalah kata Yunani untuk Christos atau Kristus dalam alfabet Romawi. "Kristus" sendiri artinya "Mesias" atau "Yang Diurapi". Jadi, X adalah singkatan yang tepat bagi Kristus. Gereja Perdana seringkali menggunakan X Yunani sebab X merupakan sandi rahasia yang mereka gunakan untuk mencegah orang luar mengenali identitas mereka.
  • Mass (Misa)
“Christmas” adalah kata yang amat mengagumkan. Artinya “Christ's Mass” atau “Misa Kristus”. Pada abad pertengahan gereja-gereja akan memasang sebuah penanggalan di pintu masuk gereja. Penanggalan tersebut menunjukkan perayaan-perayaan serta pesta-pesta wajib gereja, yaitu hari di mana umat wajib menghadiri Misa seperti pada hari Minggu. Huruf-huruf “mas” (“misa”) seringkali ditambahkan pada akhir nama perayaan atau nama santo/santa (orang kudus) yang pestanya sedang dirayakan. Sebagai contoh: perayaan St. Mikhael (29 September) disebut Michaelmas (Misa St. Mikhael). Perayaan kelahiran Yesus disebut Christmas atau Misa Kristus.

“Mass” atau misa berarti “misi”, jadi kita diutus untuk mewartakan kabar sukacita tentang kedatangan Sang Juruselamat. Kita sama seperti para gembala yang mewartakan kabar sukacita ke seluruh penjuru negeri.

Jadi pada mulanya “X-mas” bukanlah bermaksud untuk mengeluarkan Kristus dari Natal tapi merupakan kependekan dari “Christ”-mas. Bukan berasal dari agenda modern sekular, tapi kebiasaan dari Kristen kuno dalam mempresentasikan nama Tuhan kita dengan monogram Yunani.

Salam, Selamat Menyambut Natal

May the good times n treasures of present bcome the golden memories of tomorrow. Wish u lots of love, joy, happiness. Merry x-mas.

I wish you for an unforgetable X-Mas this year ~ May its spirit be your truly Graceful Guidance to reach love and dreams. Merry Christmas.

http://www.crossroadsinitiative.com/library_article/999/Is_X_mas_an_attempt_to_take_Christ_out_of_Christmas_.html

Senin, 21 Desember 2015

Menyambut Atau Merayakan Natal?

Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk ‘hidup sebagai keluarga Allah". Dimana umat Kristiani merayakan kelahiran sang juru selamat umat manusia. Oleh sebab itu umat kristen perlu melakukan persiapan rohani, karena yang akan disambut adalah Mesias (penebus dosa manusia). 

Dalam hal persiapan rohani selain untuk menyambut kelahiran Tuhan untuk menebus dosa-dosa manusia, persiapan rohani ini juga untuk mengingatkan manusia menyambut Tuhan yang akan datang suatu hari kelak untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Yang mana juga umat Kristen diwajibkan belajar mengenali kehadiran-Nya melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Kata "Adven" berasal dari bahasa Latin yaitu : Adventus, yang artinya (datang). Dalam gereja Katolik masa Adven ini disebut juga Masa Persiapan (penantian). Umat dalam dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan, persiapan rohani tersebut yaitu pertobatan (masa pertobatan). Hal ini tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik, yang isinya sebagai berikut : 
"Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias. Dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua". (KGK 524).
Tradisi kalender liturgi katolik menyatakan dengan sangat jelas bahwa sebelum tanggal 25 Desember tidak ada “perayaan Natal”. Bahkan misa meriah tanggal 24 Desember pun biasa disebut “Malam Natal” (vigili natalis). Itu berarti, hari-hari sebelum tanggal 25 Desember masih berada dalam suasana Advent yang identik dengan masa-masa pertobatan.

Dengan demikian gagasan ini mengaju pada satu jawaban tegas  "sebaiknya merayakan Natal setelah tanggal 25 Desember. Maka dengan sangat jelas apa itu masa Adven! Bagaimana mau pesta Natal di masa Adven?

Alasan mengapa umat merayakan Natal sebelum 25 Desember 

Beberapa alasan yang sering dipakai umat untuk merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember : 
  1. Kalender Nasional menyatakan hari Natal 25 Desember tersebut adalah hari libur Nasional.
  2. Maka jika Natal diadakan tanggal 25 Desember, ditakutkan perayaan Natal tersebut tidak akan semarak akibat sebagian umat sudah berlibur (pulang kampung).
  3. Agar pada tanggal 25 Desember tersebut dapat merayakan Natal dengan anggota keluarga tercinta (pulang kampung).
Dengan beberapa alasan tersebut umat melaksanakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, sehingga Natal lingkungan, tempat kerja, kantor, instansi untuk mengantisipasi ketidaksemarakan (meriah) acara Natal yang akan diselenggarakan. 
Padahal jika hanya untuk berlibur atau merayakan Natal bersama anggota keluarga sebenarnya masih dapat dilakukan sesudah tanggal 25 Desember, malam Tahun Baru, atau paling tidak saat Tahun baru tiba.

Mengambil Sikap

Jika lingkungan tinggal atau kantor dimana kita bekerja menyelenggarakan perayaan Natal "Ekumenis" bersama anggota jemaat kristen non-katolik, lalu bagaimana kita harus menyikapi hal itu?
Menolak hadir perayaan Natal pasti tidak mungkin, karena sebagai anggota lingkungan ataupun pegawai di tempat kerja, menolak hadir maka bisa saja “dikucilkan” dan dianggap tidak toleran dengan semangat kebersamaan kristiani.
Memutuskan hadir dalam perayaan Natal tersebut, sekalipun secara nurani meyakini itu belum saatnya (membuat perasaan hati tidak nyaman).

Jika keadaan mengharuskan untuk mengadiri undangan Natal sebelum tanggal 25 Desember, maka setidaknya maknailah di lubuk hati yang terdalam, bahwasanya ini "perayaan penyambutan Natal" dan tidak melibatkan diri secara langsung (ikut menjadi panitia, pembawa acara, pengisi acara, pengurus ataupun seksi-seksi yang terlibat di dalam kegiatan tersebut).

Renungan :

Apakah aku sungguh-sungguh menyediakan tempat bagi Kristus di dalam hidup ku, di dalam hati ku? Ataukah hidup ku terlalu penuh sesak dengan urusan lain dalam menyambut Kristus?
Apakah hatiku telah penuh dengan kegembiraan dan kecemasan ku sendiri?
Penuh keinginan memperoleh kemewahan atau kenikmatan dunia?
Sehingga  tiada tempat lagi bagi Kristus, seperti yang terjadi di Betlehem pada malam itu?

Kelahiran Kristus menunjukkan kepada kita, bahwa hidup kita sekarang ini ada maknanya. Makna hidup kita itu ialah "adanya keterlibatan Allah dalam hidup kita".

Apa itu gereja Universal?

Katolik adalah Agama yang Universal Kata “Katolik” berarti “universal”, memiliki sifat-sifat totalitas atau “utuh”. Dengan demikian Gereja Katolik adalah universal, dimana setiap orang telah dipanggil untuk membawa kabar sukacita Injil kepada setiap orang, kepada setiap bangsa, kepada setiap penjuru dunia. Sejarah Gereja Katolik berasal dari percakapan antara Tuhan Yesus dan Petrus. Yesus berkata,”Sebab itu ketahuilah, engkau Petrus, batu yang kuat. Dan diatas alas batu inilah aku akan membangun gereja-Ku, yang tidak dapat dikalahkan: sekalipun oleh maut!” (Mat 16:18) Umat Katolik percaya bahwa Gereja Katolik adalah gereja yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus.
Pusat gereja Katolik di dunia, gereja Santo Petrus Basilica (St. Peter’s Basilica) yang dibangun di Vatikan, adalah tempat dimana Santo Petrus dimakamkan. Saat ini, makam dari Santo Petrus berada di dalam tanah, persis dibawah altar utama di antara tiang-tiang penopang kubah Bernini. Menurut catatan Kitab Suci Perjanjian Baru pada jaman Yesus, Petrus adalah pribadi yang sangat menonjol diantara murid-muridNya yang lain. Setelah Yesus disalib, peran Petrus semakin penting didalam perkembangan para pengikut Yesus pada jaman awal tersebut.

Petrus diperkirakan lahir pada tahun 4 Sebelum Masehi, dan wafat antara tahun 64 atau 68 Setelah Masehi. Ia lahir di Bethasida, disisi Danau Galiela. Sebagai seorang nelayan, ia bersama dengan tiga rekannya yang lain menjadi murid-murid Yesus. Nama asalnya adalah Simon (atau Symeon) namun Yesus memberinya nama Petrus. Walaupun mungkin pendidikannya sangat terbatas (Kis 4:13) ia adalah tokoh yang sangat berperan didalam sejarah awal mula agama Katolik. Sebelum Yesus wafat, Petrus adalah seorang yang keras kepala, emosinya seringkali tidak terkendali dan penuh keraguan. Tetapi setelah Yesus naik kesurga dan ia dipenuhi oleh Roh Kudus, Petrus menjadi sosok yang beriman dan tidak gentar sedikitpun dalam menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya.

Menurut catatan ahli sejarah Eusebius (c.260-c.340) Santo Petrus wafat sebagai martir, pada sekitar tahun 64 Setelah Masehi yaitu pada jaman pemerintahan Kaisar Nero (54-68). Menurut catatan dari Origen (c.184-c.253) seorang ahli teologi, Santo Petrus dihukum dengan disalibkan secara terbalik, dengan tujuan agar ia tidak menyamai penyaliban Tuhan Yesus. Gereja pada saat itu mencoba untuk berpusat di Roma – tempat yang merupakan pusat kegiatan sekuler sekaligus tempat wafatnya Santo Petrus. Setiap penerus dari Santo Petrus dikenal dengan nama “Uskup Roma” (“Bishop of Rome”) atau disebut “Paus” (“Pope”) pada saat itu. Pada saat Kerajaan Romawi terpecah menjadi dua, yaitu Bagian Barat dan Bagian Timur, ke-Kristenan merupakan agama dari kedua negara bagian, sehingga hanya figur Paus itulah yang diharapkan menjadi pemersatu agar tidak terjadi perpecahan yang lebih menghancurkan lagi. Agama Katolik terus berkembang keseluruh pelosok bumi hingga hari ini. Agama Katolik merupakan agama yang sangat berperan dalam peradaban manusia modern dan dalam penyampaian Injil ke berbagai bangsa di dunia.

-Sejarah Perkembangan Agama Katolik di Indonesia-

Di Indonesia, orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku pada tahun 1534. Ketika itu pelaut-pelaut Portugis baru menemukan pulau-pulau rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransikus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat. Mereka melakukan pesan perutusan Yesus,”Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Kemudian datanglah serikat niaga VOC dari Belanda yang akhirnya mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia.

Para penguasa VOC beragama Protestan, maka mereka mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis dan menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda. Banyak umat Katolik yang kemudian menjadi Protestan saat itu. Kedatangan VOC juga bertentangan dengan sultan-sultan di daerah itu yang baru menganut Islam, sehingga banyak terjadi pertumpahan darah demi agama masing-masing. Akan tetapi pertentangan-pertentangan tersebut sebenarnya berasal dari kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi – dan agama diikutsertakan. Dengan demikian, arti agama yang sebenarnya akhirnya dikacaukan oleh kepentingan-kepentingan ini. Di pulau Flores dan Timor, pengijilan dilakukan pada tahun 1555. Perkembangan Katolik di pulau-pulau itu cukup pesat, karena orang Belanda kurang menaruhperhatian pada pulau-pulau tersebut saat itu. Pada tahun 1799 VOC bangkrut dan dinyatakan bubar.

Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) menggantikan peran mereka dengan pemerintah Hindia Belanda. Kebebasan beragama kemudian diberlakukan, walaupun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Imam saat itu hanya 5 orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. Akan tetapi pada tahun 1889, kondisi ini membaik, dimana ada 50 orang imam di Indonesia. Di daerah Yogyakarta, misi Katolik dilarang sampai tahun 1891. Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. van Lith, SJ yang datang ke Muntilan pada tahun 1896. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama. Sehingga pada tanggl 15 Desember 1904, rombongan pertama orang Jawa berjumlah 168 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak diantara dua batang pohon “sono”. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Romo van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan yaitu Normmlschool di tahun 1900 dan Kweekschool di tahun 1904. Hampir semua murid-muridnya menjadi Katolik dan banyak dari mereka yang menjadi rasul-rasul, menyambaikan Injil Kristus ke berbagai belahan Nusantara. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius. Para imam dan Uskup pertama di Indonesia adalah bekas siswa Muntilan. Pada permulaan abad ke-20 gereja Katolik berkembang pesat. Bahkan banyak diantara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti A. Adisucipto (1947), I. Slamet Riyadi (195) dan Yos Sudarso (1961). Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan adalah Romo Agung Albertus Sugiyopranoto pada tahun 1940. Kardinal pertama di Indonesia adalah Justinus Kardinal Darmojuwono diangkat pada tanggal 29 Juni 1967.
Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan gereja Katolik dunia. Uskup Indonesia mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Umat Katolik di Indonesia harus terus terbuka bagi tuntuan Allah dan menjadi “garam dunia”. Dengan demikian umat Katolik harus terus memperdalam dan memperkokoh imannya.

-Sakramen Dalam Agama Katolik-

Sakramen dalam Agama Katolik Seluruh liturgi Gereja Katolik berkisar seputar sakramen-sakramen, khususnya
Sakramen Ekaristi (Misa). Menurut Katekismus Gereja Katolik No. 1131, “Sakramen adalah tanda rahmat yang efektif, yang diadakan oleh Kristus dan dipercaya kepada Gereja; lewat sakramen tadi hidup ilahi diberikan kepada kita” Seluruh hidup liturgi Gereja Katolik berpusat pada 7 (tujuh) sakramen, yaitu:
1. Sakramen Baptis
2. Sakramen Krisma
3. Sakramen Ekaristi
4. Sakramen Tobat
5. Sakramen Pengurapan Orang Sakit
6. Sakramen Tahbisan
7. Sakramen Perkawinan

Katekismus Gereja Katolik No. 1210 juga mengatakan, ”Tujuh Sakramen menyentuh semua tahap dan semua peristiwa penting dalam hidup kristiani; memberi kehidupan dan menumbuhkannya, menyembuhkan dan memberikan perutusan kepada hidup imam orang kristiani” . Dari 7 Sakramen ini ada 3 yang bersifat tetap atau meterai, yaitu Sakramen Baptis, Krisma dan Tahbisan Suci. Meterai itu “tidak dapat hilang” sehingga sakramen-sakramen itu tidak boleh diterima lebih dari satu kali. Sedangkan Sakramen Ekaristi dianggap sebagai “Sakramen dari sakramen-sakramen” karena seluruh Sakramen tertuju kepada Sakramen Ekaristi ini. Apa yang diakui oleh setiap umat Katolik dalam “Syahadat Para Rasul”, dikomunikasikan oleh Sakramen-sakramen tersebut. Sakramen-sakramen adalah merupakan sarana Allah dalam memberikan kita hidup baru dan kekuatan dalam hidup baru tersebut.

Ke-tujuh (7) sakramen itu dikelompokan menjadi 3 yaitu: 1. Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma dan Ekaristi) 2. Sakramen Penyembuhan (Pengakuan dosa dan Pengurapan orang sakit) 3. Sakramen Pelayanan (Tahbisan Suci dan Perkawinan) Menurut Presbyterorum Ordinis 5 dan Lumen Gentium 11, perayaan Sakramen Ekaristi merupakan “sumber dan puncak” dari seluruh pewartaan Injil dan seluruh hidup kristiani.